KEAJAIBAN YANG BERLAKU KETIKA PEPERANGAN RUSSIA-AFGHANISTAN

Bahagian 4

Kisah pahlawan legendaris Dr. Mayajil

Kisah Dr. Mayajil akan senantiasa dikenang oleh bangsa Afghanistan untuk beberapa abad lamanya. Ia memulai kegiatannya dalam Al-Harakah Al-Islamiyyah di Baghman, Kandahar. Ketika gerakan itu sudah mulai membulatkan tekad hendak melawan pemerintahan Daud, Dr. Mayajil termasuk orang pertama dalam gerakan itu. Menyusul sesudah itu pemerintahan Taraqi. Maka ramailah penduduk Afghanistan yang mengikuti gerakan tersebut untuk memberi pukulan telak terhadap invasi orang kafir Russia ke Afghanistan. Ini berlanjutan lama berbilang tahunan, hingga mendekati ajalnya, ketika Dr. Mayajil hendak pergi untuk melawat (menyampaikan penghargaan) kepada beberapa orang pasukannya. Ia keluar dengan dikawal ketat oleh pasukannya yang setia. Kaum komunis melalui mata-matanya yang disebarkan ke mana-mana mengetahui rencana kepergian Dr. Mayajil. Lalu mereka mengadakan serangan kilat yang menewaskan Mayajil, sesudah ia mempertahankan diri mati-matian. Muhammad Na'im, salah seorang komandan yang berkerja di bawah pimpinan Dr. Mayajil bercerita kepada saya. Katanya, "Kaum komunis senang sekali mendengar seorang pahlawan legendaris Mujahidin tewas. Selain kerana mereka puas bisa membalas dendam, juga kerana mereka ingin meyakinkan rakyat Afghanistan bahawa karramah yang menjadi pembicaraan umum sehari-hari di kalangan rakyat Afghanistan adalah omong kosong. Kaum komunis memerintahkan pasukannya agar menggali kuburan Dr. Mayajil untuk dipertontonkan kepada rakyat Afghanistan. Sesudah jenazah itu dikeluarkan dari kuburnya, komandan komunis menyepak jenazah tersebut dengan kakinya. Ini dilakukan untuk meyakinkan rakyat yang menonton bahawa mayat tersebut tidak punya erti apa-apa. Tetapi Subhanallah! Kaki sang komandan komunis langsung kejang dan kaku, tidak bisa digerakkan lagi, dan tidak bisa melangkah.

Akhirnya mayat yang mereka bawa pergi bukan mayat Dr. Mayajil, tetapi komandannya yang cacat kerana menghina wali Allah. Dr. Mayajil dikuburkan kembali oleh rakyat dan namanya semakin semerbak. Pada malam hari sering terlihat kuburnya mengeluarkan cahaya, dan dari dalam kuburnya terdengar pekik Allahu-Akbar, yang diikuti oleh pekikan banyak orang, namun tidak terlihat ada seorang pun, selain hanya suaranya. Isteri dan seluruh keluarganya di Peshawar sedih sekali. Saudara kandungnya solat malam dan memohon kepada Allah Ta'ala supaya mereka diberi ayat (tanda-tanda kekuasaan Allah) atas syahadatnya supaya dapat meringankan kesedihan mereka. Tiba-tiba sebuah vas berikut bunganya yang semerbak wanginya jatuh di sisinya. Ia lalu membangunkan saudara-saudaranya supaya melihat ayat Rabbaniyah itu dengan mata kepalanya sendiri. Mereka ingin membangunkan Muhammad Yasir, iparnya, tetapi akhirnya mereka berubah fikiran. Kata mereka, "Kami letakkan sekuntum bunga itu di dalam Al-Qur'an. Sesudah fajar nanti akan kami perlihatkan kepada mereka. Tetapi pagi-pagi hari benar, ketika mereka membuka lembaran Al-Quranul Karim tersebut, mereka tidak menemukan bunga itu lagi. Kisah tersebut dibawakan oleh Muhammad Yasir, Ketua Panitia Politik Al-Ittihad-ul-Islami di Afghanistan.

Mayajil berhasil menanamkan rasa rindunya di kalbu isterinya. Setiap keluarganya menawarkan dia agar menikah lagi, tetapi dia selalu menolak dan dia berkata dengan tegas kepada keluarganya bahawa dia tidak ingin menikah lagi, "Saya akan menyusulnya ke syurga kelak", kata isteri Mayajil. Konon tidak pernah terlewat seminggu pun, ia selalu bermimpi bersama suaminya di syurga, dan kini isteri Mayajil sedang giat-giatnya menghafal Al-Quranul Karim

Kisah Sayyaf dengan sepotong roti

Sayyaf bercerita kepada saya. Katanya, "Pada waktu saya kuliah, dan Hafidhullah Amin menjadi kepala sekolah saya, beliau menyuroh saya pergi ke rumah sakit untuk berubat. Saya berjalan sejauh 10 km. Sesudah berubat, saya pun pulanglah. Di tengah perjalanan saya melihat seorang penjual roti. Roti itu terlihat masih hangat mengepul. Pada waktu itu saya berharap kepada Allah, kalau saja sekiranya saya punya wang untuk bisa membeli sepotong roti itu (harganya lebih kurang 3-4 Rupee Afghanistan). Saya terus melanjutkan perjalanan. Tetapi baru berjalan beberapa langkah dari penjual roti itu, tiba-tiba ada mobil walikota Kabul sedang memeriksa berat timbangan roti. Ternyata timbangan tukang roti yang saya temui tadi tidak sesuai dengan izin yang diberikan. Sebagai hukumannya si penjual roti harus membagi-bagikan roti yang kurang timbangannya kepada orang-orang yang berlalu di sana. Maka saya yang tidak jauh dari tempat si penjual roti itu pun tentu saja memperolehi pembagian tersebut. Saya memperolehi roti sebuah. Setelah mendapat roti tersebut timbul dalam benak saya hasrat untuk memperolehi roti itu lagi, tetapi saya ingat pada permohonan saya kepada Allah. Tadi saya hanya meminta sepotong roti saja kepada-Nya.

Allah akan melindungi mereka

Al-Mu'allim Tur berkata kepada saya. Katanya, "Kami berjumlah sebelas orang berada dalam sebuah rumah di Luker Serhab. Tiba-tiba ada serangan udara menjatuhkan bom besar di rumah tersebut dan berhasil meledakkan pekarangannya. Tetapi di dalam rumah itu tidak ada seorang pun yang tewas atau cedera, kecuali seekor ayam.


Allah memayunginya dengan awan

Selanjutnya Mu'allim Tur berkisah lagi. Katanya, "Pada suatu ketika kami ditugaskan mengangkut senjata dan logistik lainnya menuju Louker. Kami harus melalui daerah benteng Jauni yang panjangnya 3 km. Kami memutuskan akan melintasinya pada malam hari. Tetapi pada malam itu kebetulan bulan purnama sedang cerah. Kami takut sekali, jangan-jangan senjata automatis musuh  memberondong kami dari pos-pos penjagaan di benteng itu. Namun dengan Kekuasaan Allah, ketika kami telah dekat ke benteng musuh, Allah SWT mengirimkan pasukan awan-Nya yang berarak-arak menutupi bulan purnama, sehingga kafilah kami seolah-olah berjalan di gelap gelita. Subhanallah! Setelah kami melewati benteng tersebut, awan itu menghilang dan bulan purnama terang benderang kembali.

Roket menghentam atap rumah, tetapi tidak jatuh ke bawah

Muhammad Afdhal, Panglima Paktia, bercerita kepada saya. Katanya, "Kami mendapat serangan udara yang dahsyat di Roqyan, daerah Jajee. Lalu saya perintahkan kepada tiga mujahidin yang bersama dengan saya supaya segera meninggalkan rumah tersebut. Namun mereka bersikeras untuk tetap tinggal di rumah itu. Kata mereka, "Kami tidak akan keluar sebelum kami selesai shalat." Maka saya pun keluar seorang diri, sedang mereka masih tetap tinggal di rumah itu untuk melakukan shalat. Di luar saya melihat rumah itu terkena serangan tiga buah roket. Maka saya cepat-cepat masuk ingin mengetahui nasib ketiga mujahidin tersebut. Subhanallah, saya melihat ketiga roket itu menghentam dan melubangi atap rumah, tetapi saya tidak menemui bekas-bekasnya, baik di dalam rumah maupun pada lantainya. Yang menakjubkan lagi, ketiga mujahidin itu tidak ada yang terluka, mereka semua tetap dalam keadaan sihat wal-'afiat tak
kurang suatu apa.

Orang-orang yang berseragam putih

Leftenan Kolonel Abdul Wahid bercerita kepada saya. Katanya, "Kami sebanyak 58 orang mujahidin tengah berada di perbatasan Kandahar, Kabul. Tiba-tiba iring-iringan pasukan musuh melintasi daerah itu. Kekuatan kami terdiri dari 4 peluncur peluru kendali RBG-7. Kami berhasil menawan 21 pasukan musuh, dan merampas 65 kenderaan lapis baja. Seorang perwira pasukan Russia melarikan diri, tetapi kami berhasil mengejar dan menangkapnya. Kami bertanya kapadanya, "Mengapa anda melarikan diri dan tidak melepaskan tembakan kepada kami?" Ia menjawab, "Ketika saya turun dari mobil, saya melihat banyak orang berseragam putih, baik di tanah lapang maupun di pergunungan yang ada di sekitar sini. Maka saya segera melarikan diri kerana takut kepada mereka".

14 peluru menembus tubuh Saleh Kandahari

Muhammad Saleh Kandahari dari Baghman bercerita kepada saya. Katanya, "Saya terkena 14 tembakan, tetapi saya tidak merasa sakit sedikitpun. Di zaman pemerintahan Hafidhullah Amin, saya dipenjara selama setahun. Saya diseksa dengan berbagai seksaan yang mengerikan. Sebelas buah kuku kaki dan tangan saya dicabut, lalu mereka menyetrum tubuh saya dengan aliran listrik, tetapi saya tidak merasakan sakit sedikitpun".

Mana penunggang kuda itu?

Mir Qayimah Khan bercerita kepada saya. Katanya, "Iring-iringan tank dan kenderaan lapis baja musuh sebanyak tidak kurang dari 70 buah menyerang kami, sementara kami pada waktu itu hanya 8 orang mujahidin. Kami mempunyai sebuah peluncur RBG dengan sebelas buah peluru. Kami menembakkan ke arah tank musuh dan berhasil membakarnya. Ternyata 10 peluru kendali yang lain, yang selama ini dinyatakan tidak bisa dipakai berhasil melumpuhkan pasukan tank musuh, dan lima orang tenteranya menyerahkan diri. Mereka bertanya kepada kami, "Mana pasukan kavaleri yang berbilang ribuan itu?" Kami menjawab, "Kami ini hanya terdiri dari delapan orang mujahidin". Tetapi mereka tidak mempercayainya. Kisah ini juga diceritakan di hadapan Al-Ustadz Sayyaf.


Allah menyelamatkan kaum muslimin dengan udara dingin

Ihsanullah bercerita kepada kami. Katanya, "Saya seorang komandan di daerah Munjul, Jamkani, dan Jajee. Kami terdiri dari dua ratus mujahidin. Kami berusaha memasuki sebuah daerah di Darandi, tetapi penduduk daerah itu memohon agar kami meninggalkan mereka supaya tentera pemerintah tidak membabi-buta menyerang rakyat. Kami pun pergi meninggalkan daerah itu ke suatu dataran yang tidak jauh dari daerah itu. Rupanya pemerintah Kabul sudah mencium keberadaan kami. Diam-diam mereka mengirimkan empat ratus pasukan milisi untuk mengintai dan mengikuti jejak kami dari atas pergunungan yang ada di sekitar kami, tanpa setahu kami. Tiba tiba Allah mengirimkan "pasukan" udara dingin dari langit. Kami belum pernah mengalami dingin seperti itu, sehingga seolah-olah kepala kami terasa bengkak kerana dinginnya. Akhirnya kami terpaksa meninggalkan daerah itu, dan Alhamdulillah dengan demikian kami selamat dari kepungan musuh. Kalau tidak kerana pertolongan Allah mengirimkan udara dingin yang menusuk itu, tentu akan terjadi kontrak senjata dengan musuh, dan kemungkinan besar kami akan mengalami kerugian besar".

Syaqiq Ghulam Sakhi melihat dalam mimpi

Ihsanullah selanjutnya bercerita lagi. Katanya, "Telah bercerita kepada saya Syaqiq Ghulam Sakhi. Dia bercerita, "Telah gugur sebagai syahid Rahim Shah, Ketua partai di Jajee, daerah Jamkani, bersama saudara saya, Ghulam Sakhi dalam suatu pertempuran. Lalu kami mengubur mereka tidak jauh dari daerah pertempuran itu. Tiba-tiba pada suatu malam saya melihat dalam mimpi saudara saya itu meminta tolong. Katanya, "Cepatlah datang! Kaum komunis hendak menggali kuburanku dan melarikan mayatku!" Pada mulanya saya pikir itu hanya mimpi. Tetapi setelah saya tidur kembali, ternyata mimpi itu datang lagi. Akhirnya saya dan beberapa orang keluarga, juga keluarga Rahim Shah, pergi ke kuburan tersebut. Setiba di sana saya melihat ternyata kaum komunis sedang menggali kuburan mereka. Kami segera melepaskan tembakan kepada tentera komunis itu. Dan akhirnya mereka melarikan diri. Sudah menjadi rahsia umum, pasukan komunis sudah hancur semangat juangnya melawan kaum mujahidin. Mereka melihat berbagai hal yang mengerikan, sekaligus menakjubkan di medan perang Afghanistan. Untuk menghilangkan rasa takut dan ngeri kepada kaum mujahidin, mereka berusaha membawa pimpinan mujahidin, baik dalam keadaan masih hidup atau mati untuk dipertontonkan kepada semua pasukan bahawa komandan mujahidin yang mengerikan itu bisa mati juga.


Saya tidak tahu bagaimana saya bisa berpindah tempat

Pada tanggal 29 July 1986 Babrak di markasnya berbicara kepada kami. Ujarnya, "Telah terjadi kontrak senjata yang tidak seimbang antara kami dengan pasukan musuh. Pada waktu pertempuran sedang berkecamuk, dua orang pasukan musuh berusaha hendak menangkap saya hidup-hidup. Keduanya sudah berjarak beberapa meter dari kedudukan saya. Saya melepaskan tembakan kepadanya, tetapi tidak kena. Saya berfikir, tembakan saya itu meleset mungkin kerana kurang iman. Pada saat itu hati saya menjadi takut sekali. Maka saya segera memantapkan hati dengan berucap : "Laa ilaaha-illallah, Muhammadur-Rasulullah". Lalu saya menembak kembali, dan keduanya pun tergeletak di hadapan saya. Pada jarak dua puluh meter, saya melihat tiga orang Russia lainnya, lalu saya kembali melepaskan tembakan, dan ternyata tembakan itu langsung mematikan mereka semua. Tiba-tiba tank musuh sudah ada di hadapan saya. Moncong senjatanya lebih dekat ke tempat saya dari tank itu sendiri. Saya hampir saja melompat ke atas tank. Tetapi tiba-tiba tank itu merubah haluannya dan mengundurkan diri. Pada saat itu saya sedang membawa peluncur RBG (tetapi tanpa peluru) dan Klashenkov. Tiba-tiba saya melihat diri saya ada di tempat lain, kira-kira 25 meter di atas tempat saya yang pertama, pada hal antara tempat saya yang pertama dengan yang ada di depannya dihalangi oleh sebuah pagar yang tinggi yang sulit dibayangkan bisa didaki dalam keadaan normal. Hingga kini saya tidak habis pikir bagaimana saya bisa berpindah tempat".

Ketika sakit diselamatkan dari
mara bahaya

Muhammad Hasyim dari Loger bercerita kepada saya pada tanggal 31 July 1986. Katanya, "Pada waktu kami berada di Jajee, seorang mujahidin bernama Mahmud menderita demam yang sangat tinggi, sementara roket BM-41 milik musuh berjatuhan di atas kami. Maka saya segera memerintahkan kepadanya untuk menjauhi tempat ini agar tidak terkena roket musuh. Tetapi ia menjawab, "Saya sakit, tidak bisa bergerak bebas". Ketika dia sedang tiduran, tiba-tiba sebuah roket musuh jatuh setengah meter dari kakinya, tetapi Subhanallah, roket itu tidak meledak. Ia lalu melompat dan menjauhi tempat itu. Setelah menjauh lebih kurang 50 meter, barulah roket itu meledak. Ini suatu keajaiban dalam ilmu militer, kerana biasanya roket akan meledak begitu menyentuh tanah, dan lebih menakjubkan lagi, sejak peristiwa tersebut Mahmud sembuh dari penyakit yang dideritanya.

Tubuh mereka tidak dimakan api

Syir Muhammad dari Loger, pada tanggal 31 July 1986 bercerita kepada saya. Katanya, "Telah bercerita kepada saya seorang Komandan dari Ghazni. Komandan itu berkisah, "Dua pasukan pemerintah dari kelompok Sikh membelot ke pasukan mujahidin. Mereka berjihad bersama para mujahidin. Dalam suatu pertempuran dengan kaum komunis, keduanya tewas sebagai Syuhada. Kami lalu mengirimkan mayat mereka kepada keluarganya di Kabul. Kebiasaan orang Sikh adalah membakar mayat kelompoknya. Maka mereka (keluarga dan kerabatnya) mengumpulkan kayu bakar untuk mengadakan upacara pembakaran mayat tersebut. Tetapi ketika dibakar, mayat keduanya masih utuh tidak termakan api, pada hal kayu Bakarnya telah habis menjadi debu. Melihat keajaiban ini kepala kelompok itu berkata kepada keluarganya, "Kedua orang ini bukan dari golongan kami, akan tetapi termasuk kaum muslimin yang mujahidin". Demikianlah, kami lalu menguburkan mereka bersama kaum mujahidin yang syahid lainnya".

Cahaya di jalan

Jarran Jul bercerita kepada kami di Sarkhab, daerah Logher, di pusat Mua'llim Tur. Katanya, "Pada waktu itu saya berada di Tari Mankal. Tiba-tiba saya mempunyai perasaan bahawa musuh akan datang ke daerah Muhammad Agha di Louker. Tiba-tiba saja timbul semangat saya ingin pergi ke Louker untuk menolong saudara-saudara saya di sana. Maka saya keluar dari Tari Mankal, pada sore hari saya baru sampai di daerah Tubandi, saya berniat untuk bermalam di situ kerana jalanan sulit ditempuh dan malam hari tentu gelap gelita. Tetapi hati kecil saya tidak mengijinkan niatan itu. Fikiran dan kalbu saya, "Bagaimana
engkau bisa bersenang-senang di sini, sementara saudara-saudaramu sedang dikepung musuh dan mereka tidak bisa tidur". Maka niat tersebut saya urungkan, dan saya kembali melanjutkan perjalanan dengan tekad bulat. Tatkala saya hendak melangkahkan kaki, saya melihat ada cahaya yang menerangi jalan yang saya lalui. Saya menoleh ke sekeliling untuk mengetahui sumber cahaya itu. Tetapi saya tidak melihat dan tidak menemukan apa-apa. Pada waktu itu saya pergi bersama tiga orang mujahidin, yakni perwira Amanullah dan dua orang lainnya. Mereka bertanya kepada saya, "Bagaimana anda bisa melihat jalanan yang gelap gelita di malam hari dan berjalan cepat pula?" Saya tidak memberitahukan karramah itu kepada mereka. Saya hanya menjawab, "Saya telah lama mengetahui jalan ini". Sementara cahaya itu masih saja terus menyertai saya hingga sampai ke Masjid Zurghan Syahr (dekat daerah musuh) sekitar jam 2.00 malam. Saya bertanya kepada imam masjid itu mengenai hal-ikhwal pertempuran. Dia menjawab, "Kami sudah menghancurkannya atas pertolongan Allah pada sore hari kelmarin". Jarran Jul menceritakan kisah ini dengan bersumpah.

Do'a menurunkan
salji

Telah bercerita kepada kami Jul Muhammad. Katanya, "Musuh menyerang kami dengan gencar, sedang kekuatan kami tidak seimbang. Maka Maulawi Barzak dan Bahram, masing-masing menarik pasukannya ke Gunung Sultan Saif. Di sana mereka menderita kehausan yang sangat. Maulawi Barzak lalu mengangkat tangannya ke langit dan berdoa kepada Allah, "Ya Allah, Kami ini hamba-hamba-Mu. Kami keluar di jalan-Mu hanya untuk mengharapkan ridha-Mu. Maka Perintahkanlah kepada langit, Ya Allah, untuk mengirimkan airnya supaya memberikan kepuasan kepada kami yang sedang kehausan ini". Subhanallah, tak berapa lama setelah permohonan do'a itu, hujan salji turun ke tempat tersebut.


Kami ini kalah, menangkanlah Ya Allah!

Jarran Jul di Sarkhab, daerah Logher di pusat Mu'allim Tur bercerita, "Telah datang sepasukan pesawat terbang musuh menghentam markas kami di Sarkhab pada siang hari. Kami tidak memiliki peluru kendali atau meriam anti pesawat terbang. Tiba-tiba pada malam hari saya melihat seperti sebuah peluru kendali keluar dari gunung yang bersebelahan dengan kedudukan kami. Peluru kendali itu meluncur ke markas kaum komunis".

Keberkatan makanan kaum mujahidin

Ir.Ali, pembantu Shafiyullah, komandan partai di Muhammad Agha, Louker bercerita. Katanya, "Saya membeli 245kg gandum untuk keluarga saya yang terdiri dari 6 orang. Biasanya gandum sebanyak itu hanya cukup untuk 2 bulan dalam sebuah keluarga yang beranggotakan 7 orang. Tetapi di rumah saya, sudah sembilan bulan gandum itu belum juga habis pada hal rumah saya sering sekali dikunjungi oleh para mujahidin dan rekan-rekan lainnya. Dan keluarga saya pun tetap teratur makan 3 kali sehari. Pada waktu saya mengungsikan keluarga, sisa gandum itu saya berikan kepada tetangga lebih kurang sepertiganya. Demikianlah, Allah Ta'ala telah memberkati makanan kepada keluarga saya".

Diperpanjangkan-Pensil kayu

Hits: